Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 14, 2011

Kelas APK

Pemberitahuan tugas KKPI
(tentang Command Prompt)
Kelas adm perkantoran
NO
NAMA
KETERANGAN
NILAI
1

Tugas sudah diterima
80
2

BELUM

3

Tugas sudah diterima
75
4

Tugas sudah diterima
80
5

Tugas sudah diterima
75
6

BELUM

7

BELUM

8

Tugas sudah diterima
80
9

BELUM

10

Tugas sudah diterima
70
11

Tugas sudah diterima
70
12

Tugas sudah diterima
75
13

Tugas sudah diterima
75
14

Tugas sudah diterima
80
15

BELUM

16

Tugas sudah diterima
90
17

Tugas sudah diterima
75
18

Tugas sudah diterima
85
19

Tugas sudah diterima
75
20

Tugas sudah diterima
75
21

Tugas sudah diterima
60
22

Tugas sudah diterima
70
23

Tugas sudah diterima
85
24

BELUM

25

Tugas sudah diterima
75
26

Tugas sudah diterima
80
27

BELUM

28

BELUM

29

BELUM

30

BELUM

31

BELUM

32

Tugas sudah diterima
90
33

Tugas sudah diterima
75
34

BELUM


Catatan : 
- Urutan nama sesuai dengan nomor absen
- Untuk yang belum ditunggu segera !!

Selasa, Desember 07, 2010

Program Phytagoras dg PASCAL

Kali ini buat ngitung nilai sisi miring dengan rumus phytagoras yg tentunta dengan PASCAL. (Permintaan adik --> Nay)

Pogram phytagoras;
Uses crt;
Var a,b,c : Real;
Begin
     clrscr;
     write('Nilai alas (a) = ');
     readln(a);
     writeln('Nilai tinggi (b) = ');
     readln(b);
     c:=sqrt((a*a)+(b*b));
     writeln('Nilai sisi miring = ',r:2:2);
     readkey;
end.

Program bayar Fotocopy dg PASCAL

Hari ni ku coba ketikkan hasil tulisanku waktu belajar PASCAL.
Moga aja bermanfaat buat yg berkunjung.


program fotocopy;
uses crt;
const harga=150;
var jumlah : longint;
      bayar  : longint;
begin
     clrscr;
     write('Masukkan jumlah =');
     readln(jumlah);
     bayar:=jumlah*harga;
     writeln('Bayar = Rp ',bayar);
     readkey;
end.

Minggu, Desember 05, 2010

ILMU GHARIB AL-HADIST

2.1.  Ta’rif dan Sejarah Ilmu Gharibil Hadits
Ilmu gharibil hadits, ialah :
عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ مَعْنَى مَاوَقَعَ فى متون اْلاَحَادِيْثِ مِنَ اْلأَلْفَاظِ الْعَرَبِيَّةِ
عَنْ أَذْهَانِ الَّذِيْنَ بَعْدَ عَهْدِهِمْ بِالْعَرَبِيَّةِ الْخَالِصَةِ .
“Ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum”.
Sesudah berlalu masa sahabat, yakni abad pertama, dan para tabi’in pada tahun 150 H mulailah bahasa Arab yang tinggi, tidak diketahui lagi oleh umum. Oleh karena itu, berusahalah para ahli mengumpulkan kata-kata yang dipandang tak dapat dipahamkan oleh umum dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari dalam suatu kitab dan mensyarahkannya.
Menurut sejarah, yang mula-mula berusaha dalam bab ini ialah Abu Ubaidah Ma’mar ibn al-Mutsanna (210 H), kemudian usaha itu diluaskan lagi oleh Abul Hasan al-Maziny (204 H). Usaha beliau-beliau ini berlaku di penghujung abad kedua hijrah.
Di awal abad ketiga hijrah berusahalah Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Sallam (244 H) menyusun kitabnya yang terkenal dalam ilmu gharibil hadits, yang diusahakan dalam tempo 40 tahun. Kitabnya mendapat sambutan dari masyarakat, sehingga datang massanya Ibnu Qutaibah ad-Dainury (276 H). Beliau menyusun kitabnya yang terkenal pula.
Maka dengan terdapat dua kitab itu, terkumpullah sebagian besar dari kata-kata yang gharib. Sesudah itu, berusaha pula beberapa ahli, sehingga sampai kepada masa al-Khaththaby (378 H). Dan setelah kitabnya selesai, terdapat tiga induk kitab bagi segala kitab gharibil hadits.
Sesudah itu berusaha pula az-Zamakhsyari menyusun kitabnya yang dinamai al-Fa-iq. Kitab ini tinggi nilainya, disusun secara abjad. Sesudah itu bangun pula Abu Bakar al-Asybahany (581 H), menyusun kitabnya dengan mengikuti sistem al-Harawy.
Sesudah itu datanglah Ibnul Atsier (606 H), lalu menyusun kitabnya an-Nihayah. Kitab inilah sebesar-besar kitab gharibil hadits yang terdapat dalam masyarakat Islam. Kitab ini diikhtisarkan oleh as-Suyuthi (911 H) dalam kitabnya yang dinamai ad-Durrun Natsier.
Kiranya, kitab an-Nihayah ini mencukupi bagi seseorang di dalam mempelajari arti kata-kata yang sukar dan ganjil yang terdapat dalam matan-matan hadits.
2.2.  ILMU GHARIBIL-HADITS
Gharibul-Hadits yang dimaksudkan dalam ilmu hadits ini adalah bertujuan menjelaskan satu hadits yang dalam matannya terdapat lafadh yang pelik dan susah dipahami, karena jarang dipakai. Sehingga keberadaan ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut.
Sejak dimulainya pembukuan (secara sistematis) hadits pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga, para ulama sudah menyusun buku-buku tentang gharibul-hadits. Orang yang pertama kali menyusun dalam masalah gharibul-hadits adalah Abu 'Ubaidah Mu'ammar bin Al- Mutsanna At-Taimi (wafat tahun 210 H).
Buku-Buku yang Terkenal dalam Masalah Ini :
1.         Kitab Gharibul-Hadits, karya Abul-Hasan An-Nadlr bin Syumail Al-Mazini (wafat 203 H), salah satu guru Ishaq bin Rahawaih, guru Imam Bukhari.
2.         Kitab Gharibul-Atsar, karya Muhammad bin Al-Mustanir (wafat 206 H).
3.         Kitab Gharibul-Hadits, karya Abu 'Ubaid Al-Qasim bin Salam (wafat 224 H).
4.         Kitab Al-Musytabah minal- Hadits wal-Qur'an, karya Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri (wafat 276 H).
5.         Kitab Gharibul-Hadits, karya Qasim bin Tsabit bin Hazm Sirqisthi (wafat 302 H).  
6.         Kitab Gharibul-Hadits, karya Abu Bakar Muhammad bin Al- Qasim Al-Anbari (wafat 328 H).
7.         Kitab Gharibul-Qur'an wal- Hadits, karya Abu 'Ubaid Al- Harawi Ahmad bin Muhammad (wafat 401 H).
8.         Kitab Smathuts-Tsurayya fii Ma'ani Ghariibil-Hadits, karya Abul-Qasim Isma'il bin Hasan bin At-Tazi Al-Baihaqi (wafat 402 H).
9.         Kitab Majma' Gharaaib fii Gharibil-Hadits, karya Abul-Hasan Abdul-Ghafir bin Isma'il bin Abdul- Ghafir Al-Farisi (wafat 529 H).
10.     Kitab Al-Fa'iq fii Gharibil- Hadits, karya Abul-Qasim Jarullah Mahmud bin 'Umar bin Muhammad Az-Zamakhsyari (wafat 538 H).
11.     Kitab Al-Mughits fii Gharibil- Qur'an wal-Hadits, karya Abu Musa Muhammad bin Abi Bakar Al-Madini Al-Asfahani (wafat 581 H).
12.     Kitab An-Nihayah fii Gharibil- Hadits wal-Atsar, karya Imam Majdudin Abu Sa'adat Al-Mubarak bin Muhammad Al-Jazari Ibnul- Atsir (wafat 606 H).
Upaya baik para ulama dalam pembukuan dan penjelasan gharibul-hadits ini berakhir pada Ibnul-Atsir. Dalam menyusun buku, dia berpedoman pada kitab Gharibul-Qur'an wal-Hadits karya Al-Harawi dan kitab Al- Mughits fii Ghariibil-Qur'an wal- Hadits karya Abu Musa Muhammad bin Abi Bakar Al- Madini.
Dan belum diketahui ada orang yang melakukan upaya penyusunan gharibul-hadits setelah ibnul-Atsir kecuali Ibnu Hajib (wafat 646 H). Setelah itu, upaya para ulama hanya sebatas pada memberi lampiran dan ikhtishar, atau meringkas terhadap kitan An-Nihayah.
Di antara ulama yang memberi lampiran pada kitab tersebut adalah Shafiyyuddin Mahmud bin Abi Bakar Al-Armawi (wafat 723 H). Dan diantara yang melakukan ikhtishar adalah : Syaikh Ali bin Husamuddin Al-Hindi, yang dikenal dengan nama Al-Muttaqi (wafat 975 H), 'Isa bin Muhammad Ash- Shafawi (wafat 953 H) kira-kira mendekati setengah ukuran kitab, dan Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) yang mukhtasharnya dinamakan Ad- Durrun-Natsir Talkhis Nihayah Ibnul-Atsir.
Pada mulanya kitab Ad-Durrun- Natsir dicetak sebagai hamisy atau catatan pinggir pada kitab An-Nihayah. Namun kemudian As- Suyuthi mempunyai inisiatif untuk memisahkan tambahan terhadap kitab tersebut, dan diberi nama At-Tadzyil a'laa Nihayah Al- Gharib.
Kitab Nihayah juga disusun dalam bentuk syair oleh Imaduddin Abul-Fida' Isma'il bin Muhammad Al-Ba'labaki Al-Hanbali (wafat 785 H) dengan nama Al-Kifayah fii Nudhum An-Nihayah.
Ibnul-Atsir telah mengatur kitabnya An-Nihayah berdasarkan urutan huruf hijaiyyah, dan dicetak terakhir kalinya dengan diteliti dan diperiksa oleh Thahir Ahmad Az- Zawi danMahmud Muhammad Ath-Thanahi sebanyak lima jilid, dan diterbitkan oleh Pustaka Daar Ihya Al-Kutub Al-'Arabiyyah, 'Isa Al-Babi Al-Halabi dan rekannya di Mesir.
Ibnul-Atsir menyusun kitabnya An-Nihayah berpedoman pada kitab Al-Harawi dan Abu Musa Al- Madini, yaitu dengan memberi tanda atau rumus (ha') jika mengambil dari kitab Al-Harawi, dan tanda atau rumus huruf (sin) jika mengambil dari kitab Abu Musa. Adapun selain dari kedua kitab tersebut dibiarkan tanpa tanda apapun, untuk membedakan mana yang dari kedua kitab tersebut dan mana yang dari kitab yang lain.

Kamis, Agustus 05, 2010

Pengamanan Sistem Komputer (Dasar-Dasar Keamanan Sistem Informasi)

Mekanisme Keamanan Data
Kriptografi (cryptography) , ilmu yang mempelajari tentang teknik penyandian data. Cryptosystem, cara yang digunakan untuk melakukan penyandian data yang dipergunakan untuk menjaga kerahasiaan (confidentiality) dan keaslian (authentication) dari suatu data dalam sistem komunikasi komputer.

Komponen kriptografi
  • Plaintext
  • Ciphertext
Proses Enkripsi, proses merubah suatu plaintext menjadi ciphertext
Proses Dekripsi, proses merubah suatu ciphertext menjadi plaintext

Tiga persyaratan umum yang harus dipenuhi Cryptosystem:
  1. Proses enkripsi dan dekripsi harus efisien
  2. Penggunaan Cryptosystem tersebut harus mudah
  3. Keamanan dari suatu Cryptosystem tergantung pada keamanan dari key yang  dipakai dan kekuatan dari algoritma yang digunakan (bukan dari kerahasiaan algoritma yang digunakan)


 Elemen Enkripsi
  • AlgoritmadariEnkripsidanDekripsi
  • Kunciyang digunakandanpanjangnyakunci
  • Plaintext
  • Ciphertext

Klasifikasi Cryptosystem
Berdasarkan Proses Enkripsi dan Dekripsi dibedakan menjadi:
  • Transposisi, melakukan proses penukaran posisi terhadap elemen-elemen plaintext.
  • Substitusi, proses penggantian elemen-elemen plaintext.
  • Product, gabungan substitusi dan transposisi


Contoh transposisi
  • Skytail Cipher
  • Railfence cipher
  • Complete & incomplete collumnar cipher
  • Double transposition cipher

Skytail Cipher
Menggunakan media kertas dan silinder (balok)
Key : Diameter Balok
Plaintext : STMIKBANJARBARU
Ciphertext : N A U B R K A I B M R T A S J

Railfence cipher
Plaintext : STMIKBANJARBARU
Key : 4 (jumlahbaris)
Ciphertext : S A A T B N B R M K J R U I A

Complete & incomplete collumnar cipher

Ciphertext : EGMAUTAOOXKGETTIJRMXAANAXOINIELMIKRHNFKXSNEMP

Double transposition cipher



(Sebagian kecil materi yg ku peroleh waktu ngambil mata kuliah Pengamanan Sistem Komputer, dosen Hugo Apriianto, M.Kom)

Ciri 2x Manusia

Ciri-ciri Manusia :
  1. Manusia sempurna
  2. Manusia memiliki potensi beriman
  3. Manusia mengabdi kepada Allah
  4. Manusia menjadi khalifah di bumi (Al Baqarah : 30)
  5. Selain akal dititipkan 7 sifat Allah yaitu :
    - Quadrat   = bergerak
    - Iradat      = keinginan
    - Ilmu         = ilmu (keinginan)
    - Hayat      = hidup
    - Sama'      = mendengar
    - Bashar     = melihat
    - Kalam      = berkata-kata
  6. Manusia bertanggung jawab atas perbuatannya (Surah At Thur : 21)
  7. Akhlaq --> Kemampuan manusia untuk bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

Senin, Agustus 02, 2010

KESADARAN DIRI

Kecakapan kesadaran diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal untuk meningkatkan diri sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya.

Dengan kesadaran diri sebagai hamba Tuhan, seseorang akan terdorong untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, serta mengamalkan ajaran agama yang diyakininya. Pendidikan agama bukan dimaknai sebagai pengetahuan semata, tetapi sebagai tuntunan bertindak dan berperilaku, baik dalam hubungan antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, maupun hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Dengan kesadaran diri seperti itu, nilai-nilai agama dijadikan sebagai “roh” dari mata pelajaran lainnya.
Kesadaran diri merupakan proses internalisasi dari informasi yang diterima yang pada saatnya menjadi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan diwujudkan menjadi perilaku keseharian. Oleh karena itu, walaupun kesadaran diri lebih merupakan sikap, namun diperlukan kecakapan untuk menginternalisasi informasi menjadi nilai-nilai dan kemudian mewujudkan menjadi perilaku keseharian . Oleh karena itu dalam naskah ini, kesadaran diri dikategorikan sebagai suatu kecakapan hidup.
Kecakapan kesadaran diri tersebut dapat dijabarkan menjadi:
  1. kesadaran diri sebagai hamba Tuhan, makhluk sosial, serta makhluk lingkungan, dan
  2. kesadaran akan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, baik fisik maupun psikologik.
Kesadaran diri sebagai hamba Tuhan diharapkan mendorong yang bersangkutan untuk beribadah sesuai dengan tuntunan agama yang dianut, berlaku jujur, bekerja keras, disiplin dan amanah terhadap kepercayaan yang dipegangnya. Bukankah prinsip itu termasuk bagian dari akhlak yang diajarkan oleh semua agama? Oleh karena itu, diharapkan agar mata pelajaran Agama dan Kewarganegaraan menanamkan prinsip-prinsip seperti itu, dan bersama guru mata pelajaran lain mengimplementasikan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan kehidupan sehari-hari di sekolah.
Jujur, disiplin, amanah dan kerja keras tidak hanya dapat dikembangkan melalui mata pelajaran Agama dan Kewarganegaraan. Melalui mata pelajaran Matematika atau Fisika, juga dapat dikembangkan sikap jujur, misalnya tidak boleh memalsu data praktikum atau hasil perhitungan tertentu. Disiplin terhadap waktu maupun aturan yang telah disepakati dapat dikembangkan melalui setiap mata pelajaran, misalnya kapan dan bagaimana memulai kegiatan belajar, praktikum maupun kegiatan ekstra kurikuler. Amanah dikembangkan ketika menggunakan peralatan praktikum maupun perlengkapan sekolah lainnya. Kerja keras dapat dikembangkan dalam mengerjakan tugas-tugas, baik individual maupun kelompok.
Kesadaran diri bahwa manusia sebagai makhluk sosial akan mendorong yang bersangkutan untuk berlaku toleran kepada sesama, suka menolong dan menghindari tindakan yang menyakini orang lain. Bukankah memang Tuhan YME menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling menghormati dan saling membantu? Bukankah heterogenitas itu harmoni kehidupan yang seharusnya disinergikan? Nah, jika sikap itu bersumber dari kesadaran diri, maka pengawasan dari pihak lain menjadi tidak lagi penting, karena setiap orang akan mengontrol dirinya sendiri.
Kesadaran diri sebagai makhluk lingkungan merupakan kesadaran bahwa manusia diciptakan Tuhan YME sebagai kholifah di muka bumi dengan amanah memerlihara lingkungan. Dengan kesadaran itu, pemeliharaan lingkungan bukan sebagai beban, tetapi sebagai kewajiban ibadah kepada Tuhan YME, sehingga setiap orang akan terdorong untuk melaksanakan.
Kesadaran diri akan potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebenarnya merupakan bentuk syukur kepada Tuhan. Dengan kesadaran itu, siswa akan terdorong untuk menggali, memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, baik berupa fisik maupun psikologik. Oleh karena itu, sejak dini siswa perlu diajak mengenal apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki (sebagai karunia Tuhan) dan kemudian mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki dan memperbaiki kekurangannya. Jika siswa menyadari memiliki potensi olahraga, diharapkan akan terdorong untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi olahragawan yang berprestasi. Demikian pula untuk potensi jenis lainnya. Wali kelas, guru Bimbingan Konseling, guru Bimbingan Karier, bahkan semua guru perlu dan dapat berperan dalam mendorong siswa mengenal potensi yang dimiliki dan mengoptimalkan menjadi prestasi belajar.
Kesadaran tentang pemeliharaan potensi diri (jasmani dan rokhani) diharapkan mendorong untuk memelihara jasmani dan rokhaninya, karena keduanya merupakan karunia Tuhan yang harus disyukuri. Oleh karena itu, menjaga kebersihan, kesehatan, baik jasmani maupun rokhani, merupakan bentuk syukur kepada Tuhan, yang harus dilakukan. Berbagai mata pelajaran dapat menjadi wahana pengembangan kesadaran diri seperti itu, misalnya Biologi dan Olahraga dapat menjadi wahana yang sangat bagus untuk kesadaran memelihara jasmani, sedangkan Agama, Kewarganegaraan, Sastra dapat menjadi wahana pemeliharaan rokhani.
Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, potensi yang dikaruniakan kepada kita harus dikembangkan, sehingga setiap orang harus mengembangkan potensi yang dikaruniakan-Nya. Pengembangan potensi dilakukan dengan mengasah atau melatih potensi itu. Dan itu berarti setiap orang harus terus menerus belajar. Dengan demikian prinsip life long education didorongkan kepada siswa, sebagai perwujudan syukur kepada Tuhan YME. Jadi belajar terus menerus sepanjang hayat merupakan bentuk syukur kepada Tuhan yang harus dilakukan oleh setiap orang.
Jika kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, sebagai makhluk sosial dan makhluk lingkungan, serta kesadaran akan potensi diri dapat dikembangkan akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak didik, karena mengetahui potensi yang dimiliki, sekaligus toleransi kepada sesama teman yang mungkin saja memiliki potensi yang berbeda.
Kecakapan kesadaran diri, sebagaimana dijelaskan di atas, kini semakin penting, karena salah satu problem bangsa ini adalah “rusaknya” moral. Para ahli menyebut, masyarakat kita sedang dijangkiti “penyakit me first ”, yang selalu memikirkan keuntungan diri di urutan paling depan. Melalui penekanan kesadaran diri dalam pendidikan yang diaplikasikan melalui semua mata pelajaran, diharapkan secara bertahap moral bangsa dapat diperbaiki.
Pendidikan untuk mengembangkan kesadaran diri seringkali disebut sebagai pendidikan karakter, karena kesadaran diri akan membentuk karakter seseorang. Karakter itulah yang pada saatnya terwujudkan menjadi perilaku yang bersangkutan. Oleh karena itu banyak ahli yang menganjurkan penumbuhan kesadaran diri ini yang perlu dikembangkan sejak usia dini dan diupayakan menjadi kehidupan keseharian di rumah maupun di sekolah.

ALGORITMA RAIL FENCE CIPHER

Algoritma ini melibatkan penulisan plainteks sehingga mempunyai baris atas dan baris bawah yang terpisah. Urutan karakter pada baris atas akan diikuti oleh karakter berikutnya pada baris bawahnya, dan seterusnya sehingga n-rail. Apabila penulisan ke bawah sudah mencapai n, maka penulisan dilakukan ke baris atasnya dan seterusnya. Bila penulisan ke atas juga sudah mencapai n-rail, maka penulisan dilakukan seperti awal. Cipherteks dibaca secara horizontal. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah contohnya:

Misalkan kita mempunyai plainteks : MEET ME AT NOON enkripsi dilakukan dengan kunci k = 3, offset = 0 (artinya dalam 3 baris dimulai dari baris ke-0 atau awal atau paling atas)
M . . . M . . . N . . .
. E . T . E . T . O . N
. . E . . . A . . . O .
maka cipherteksnya menjadi : MMNET ETONE AO
Namun enkripsi juga dapat dilakukan dengan memulainya bukan dari baris paling atas (offset = 0), namun bisa juga dari baris lainnya. Dengan menggunakan contoh plainteks di atas :
Enkripsi dilakukan dengan kunci k = 3, offset = 2 (artinya dalam 3 baris dimulai dari baris ke-2)
. . E . . . A . . . O .
. E . T . E . T . O . N
M . . . M . . . N . . .
maka cipherteksnya menjadi : EAOET ETONM MN
Biasanya penulisan cipherteks dilakukan menjadi blok-blok standar biasanya sepanjang 5 karakter. Bila hasil cipherteks tidak habis dibagi dengan panjang karakter, maka penambahan karakter dummy dilakukan pada saat pengenkripsian.
Rail Fence cipher mempunyai kelebihan dibandingkan algoritma lainnya (dalam cipher transposisi) dalam proses penulisan plainteks menjadi cipherteks karena penulisan dapat dilakukan di baris mana saja. Hal ini akan menambah kerumitan dalam proses enkripsi maupun dekripsi.
Namun algoritma Rail Fence cipher mempunyai kelemahan yaitu serumit apapun kita melakukan transposisi atau permutasi pada karakter-karakter dalam plainteks, kita hanya melakukan mengacak urutan dari plainteks tidak mengubahnya. Kemunculan karakter cipherteks akan sama dengan plainteks, hal ini dapat memberikan pertunjuk bahwa proses enkripsi menggunakan salah satu algoritma cipher transposisi. Sehingga, usaha untuk memecahkan suatu cipher transposisi tidaklah sulit bila kita mencoba semua algoritma cipher transposisi.

Sabtu, Juli 31, 2010

TAFSIR AL-QURTUBHI

BIOGRAFI PENULIS
Nama dan asal beliau
Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al Andalusi al Qurthubi, seorang ahli tafsir dari Cordova (sekarang bernama Spanyol). Ia berkelana ke negeri timur dan menetap di kediaman Abu Khusaib (di selatan Asyut, Mesir). Dia salah seorang hamba Allah yang shalih dan ulama yang arif, wara’ dan zuhud di dunia, yang sibuk dirinya dengan urusan akhirat. Waktunya dihabiskan untuk memberikan bimbingan, beribadah dan menulis.
Karya-Karya Beliau
Dia adalah menulis mengenai tafsir al-Qur’an, sebuah kitab besar yang terdiri dari 20 jilid, yang diberinya judul: “Al-Jami’ liahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan”. Kitab ini merupakan salah satu tafsir terbesar dan terbanyak manfaatnya. Penulis tidak mencantumkan kisah-kisah atau sejarah, dan sebagai gantinya, penulis menetapkan hukum-hukum al-Qur’an, melakukan istimbath atas dalil-dalil, menyebutkan berbagai macam qira’at, I’rab, nasikh, dan mansukh.
  • Al-Asna fi Syarh Asma’illaj al-Husna
  • At-Tidzkar fi Afdhal al-Adzkar
  • Syar at-Taqashshi
  • Qam’ al-Hirsh bi az-Zuhd wa al-Qana’ah
  • At-Taqrib likitab at-Tamhid
  • Al-I’lam biima fi Din an-Nashara min al-Mafasid wa al-Auham wa Izhharm Mahasin Din al-Islam
  • At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa umur al-Akhirah (edisi Indonesia: Buku Pintar Alam Akhirat) 

Guru-Guru Beliau
Beliau mendengar pelajaran dari Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi dan meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Hafsh dan lain sebagainya. Beliau tinggal di kediaman Abu al-Hushaib. 

Wafat Beliau
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi meninggal dan dimakamkan Mesir yaitu dikediaman Abu al-Hushaib, pada malam senin, tanggal 09 Syawwal tahun 671 H.

BENTUK DAN TAFSIR AL-QURTUBHI
Tafsir Al Qurthubi biasa juga disebut dengan "Al Jami'u Li Ahkamil Qur'an", karya Imam Abu Abdullah Al Qurthubi (w. 671 H). 

Sesuai dengan namanya tafsir ini menafsirkan semua ayat-ayat Al Qur'an, bedanya dengan kitab-kitab tafsir lain ia konsenterasi menafsirkan secara khusus ayat-ayat yang mengandung hukum di dalam Al Qur'an. 
Tafsir ini merupakan salah satu kitab tafsir terbaik yang menafsirkan ayat-ayat hukum di dalam Al Qur'an, merupakan kitab tafsir langkah dibidangnya. 

Al Qurthubi menjelaskan metode yang dipergunakan dalam tafsir-nya, antara lain: Menjelaskan sebab turunnya ayat, menyebutkan perbedaan bacaan dan bahasa serta menjelaskan tata bahasanya, mengungkapkan periwayatan hadits, mengungkapkan lafaz-lafaz yang gharib di dalam Al Qur'an, memilah-milih perkataan fuqaha, dan mengumpulkan pendapat ulama salaf dan pengikutnya. 

Dan argumentasi-argumentasinya banyak dikuatkan dengan sya'ir arab, mengadopsi pendapat-pendapat ahli tafsir pendahulunya setelah menyari dan mengomentarinya, seperti Ibnu Jarir, Ibnu Athiya, Ibnu al Arabi, Ilya Al Harasi, Al Jasshash dll. 

Al Qurthubi juga dalam metode penafsirannya menconter kisah-kisah ahli tafsir, riwat-riwat ahli sejarah dan periwayat-periwayat israiliyat, sekalipun banyak juga mengambil dari sisi-sisi itu dalam tafsirnya. Dan ia juga menantang pendapat-pendapat filosof, mu'tazila dan sufi kolotan serta aliran-aliran lainnya. 

Ia menyebutkan pendapat-pendapat ulama mazhab dan mengomentarinya, ia juga tidak ta'assub dengan mazhab Malikianya. Sebaliknya Al Qurthubi terbuka dalam tesisnya, jujur dalam argumentasinya, santun dalam mendebat musuh-musuhnya dengan penguasaan ilmu tafsir dan segala perangkapnya, serta penguasaan ilmu syariat yang mendalam. 

Kitab tafsir ini istimewa dari kitab-kitab tafsir ahkam Al Qur'an sebelumnya karena tidak terbatas menafsirkan ayat-ayat hukum dan persoalan fiqhi saja, tetapi lebih dari itu tafsir ini mencakup semua aspek tafsir. Kitab ini sangat dibutuhkan oleh dunia intelektual dan cendekia2 muda.